Music---GO!

Twitter Page

About Me

My photo
Curup, Bengkulu, Indonesia
This is my personal blog :') I hope you are all enjoy with everything in my blog ^^ thanks ,

Thanks Everyone ^^

Powered by Blogger.

Sunday, June 26, 2016

Segelintir Kisah

Aku Riga, memiliki 3 alasan utama kenapa aku begitu bercita-cita menjadi seorang dokter. Kurasa aku tidak perlu menuliskannya disini, karena orang lain tidak akan tertarik untuk mengetahui ketiga alasan tersebut lebih lanjut.

*****

Riga Okta Karunia.
6 Oktober 1998, nama tersebut diberikan sebagai sebuah doa lahir nan bathin kepada seorang bayi mungil yang kelahirannya sangat diharapkan dalam sebuah keluarga kecil di tengah kota, Curup.
Kata Papa, nama Riga: Puteri Ketiga, Okta: Oktober, Karunia: Karunia Allah. Jadi, kalo digabung; "Puteri ketiga yang lahir di bulan Oktober yang dikaruniai oleh Allah". Bagus, bukan? Aku bahkan sangat mencintai namaku, karena Mama yang mengandung dan melahirkanku, juga Papa yang memberikan doa tanda syukurnya begitu jelas pada namaku. Lengkap sudah rasanya dunia bagi seorang 'Riga mungil' yang lahir ketika itu disambut hangat peluk syukur satu keluarga penuh.

Namun, waktu tak mungkin berpihak untuk terus berhenti disana. Sang waktu harus berlalu, melaju dan meninggalkan kenangan manis yang dirasakan si bayi mungil di awal.

Sang bayi mungil pun tumbuh, bukan lagi sebagai seorang bayi yang mungil. Ia telah menjadi seorang balita kecil nan imut yang selalu bertindak hiperaktif, berlari kesana kemari dan berteriak, " Mama, Papa," sembari tertawa riang, membuat kedua orang yang dipanggilnya ikut tertawa merasakan kebahagiaan yang dipancarkannya.

Sekali lagi, waktu tak kuasa untuk tetap berhenti disana. Ia tetap harus melaju dan hanya meninggalkan sebutir kenangan akan senyuman dari kedua orang yang begitu dicintai oleh si gadis kecil.

Sang bayi tumbuh, ia telah menjadi seorang anak yang cantik. Memasuki Taman Kanak-Kanak, bermain dengan anak se-usianya, bercanda tawa, melakukan hal-hal aneh, menggigit lipstik milik sepupunya, bahkan bercita-cita menjadi seorang yang amat terkenal; Sang Dokter.
Kedua orang yang sangat dicintainya begitu bahagia dan bangga melihat bayi mungil mereka telah tumbuh menjadi anak yang cantik, bahkan memiliki cita-cita yang tinggi! Menjadi dokter, tentu tidak mudah. Mereka menganggap bahwa sang anak hanya bercita-cita sebagai cita-cita anak kecil saja, layaknya anak-anak lain se-usianya.

Waktu berjalan, tak ada lagi yang namanya 'Riga mungil', si Riga telah tumbuh menjadi seorang remaja, telah melewati masa anak-anak namun belum memasuki masa dewasa.
Pernah saat kegiatan MOS disekolah saat mau memasuki SMP, Riga yang begitu antusias memiliki cita-cita menjadi dokter ketika ditanya, "Siapa yang berani menunjukkan cita-citanya? Maju ke depan dan praktikkan!"
Dengan nekat si gadis tanpa malu menjawab dan memperagakan begaimana menjadi dokter yang sedang menanggapi pasien yang berkonsultasi. Saat itu dia tahu, dia akan bisa menggapai cita-citanya menjadi dokter.

Riga tahu betul bagaimana rasanya menjadi seorang remaja. Menonton film bersama teman, jalan-jalan, menyontek, cinta monyet, menjahili teman; bahkan juga guru, penasaran urusan orang lain, berkelahi, masuk sekolah melalui pintu samping karena telat, menangisi lawan jenis, banyak lagi yang lebih parah. Kalian yang seorang remaja juga tahu betul bagaimana rasanya.

Indah, ya?

Hingga ketika Riga memasuki dunia yang katanya sih, masa paling indah, masanya putih abu-abu...

Beberapa tahun lalu, saat kelas 1 SMA, Riga yang berusia 15 tahun masih menggantungkan cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. Dan untuk pertama kali dalam 15 tahunnya itu, dia memikirkan tujuan cita-cita itu untuk kehidupan orang lain di sekitarnya.
Melihat mirisnya tingkah laku dokter di daerahnya, dan juga diharuskan membayar dahulu uang di muka sebelum diobati, ditambah lagi pada umur 16 tahun ia harus menyaksikan untuk pertama kali kematian Ayah teman sekelasnya dari SMP yang dapat dikatakan akibat lambatnya penanganan dari para dokter Rumah Sakit Umum Daerah di Curup, tekadnya makin kuat untuk menjadikan cita-citanya bukan hanya sekadar cita-cita belaka.

***
Saat kelas 2 SMA, aku merasa menjadi dokter merupakan hal yang mudah. "Masalah biaya, Papa pasti akan berusaha untuk membiayai uang kuliahku hingga selesai." Hanya itulah pikiranku, dulu.
Sempat kukatakan niatku pada Papa dan Mama ketika baru masuk kelas 2 SMA, "Pa, Ma, Iga nanti ketika kelas 3 SMA ambil SNMPTN Kedokteran boleh, ya?"
Papa dan Mama tersenyum kemudian mengatakan, "Silahkan."
Dengan izin dari kedua orang tua yang bicara begitu, rasanya begitu berbeda! Membayangkan menjadi dokter saja sudah bahagia, apalagi kalau jadi dokter benaran? Disana aku merasa, "Wah kalo gini jadi dokter beneran gue, dokter beneran!"
Aku tidak pernah berpikir, uangnya dari mana? Nyari dimana? Dikira biaya kedokteran itu setara biaya kuliah lain, apa? Maklumlah. Pikiran anak full of ego, ya, gitu.
Kutunjukkan keseriusanku saat itu, aku belajar dengan giat. Di kelas aktif, bicara aktif, menulis aktif, namun ketika ujian malas belajar dan mengulang. Astagaaaa, katanya mau jadi dokter? Pemalas begitu mana ada Perguruan Tinggi yang mau nerima?
Dapat kuakui, aku seorang yang cerewet. Jikalau bicara di depan orang lain, aku bukan tipe cewek yang malu-malu, tapi malu-maluin. Hahaha.

Ketika 6 Oktober 2014, Papa, Mama dan Adikku pindah ke Argamakmur karena Papa pindah tugas. Aku di Curup bersama Kakak dan Nenekku.
Mulai saat itu, uangku ditransfer Rp 400.000/bulan. Namun, na'asnya.., aku orang yang borosnya na'udzubillah!
Jadi, untuk urusan uang, aku tidak ingin membahas lebih lanjut karena sudah pasti habis tiap akhir bulan.
Teman-teman sampai mengatakan, "Kalau aku jadi kamu, Ga.., Aku udah kaya sekarang karena uang-uangku kutabung. Tidak sepertimu, uang habis cuma buat jajan."
Kalau dipikir.., benar sekali. Dengan uang itu aku bisa beli sesuatu yang berharga.
Namun apalah daya, nasi sudah menjadi bubur.

Aku ingat sekali, saat itu aku sedang bersemangat sekali belajar karena begitu antusias menjadi seorang dokter. Bahkan setiap ditanya di depan kelas, aku selalu menjawab dokter, dokter, dokter. Teman-temanku mendukung cita-citaku, walaupun sebenarnya mereka tahu berat bagi seorang pemalas sepertiku menjadi dokter.
Banyak sekali cerita disini mengenai cita-citaku yang kurasa akan jadi sebuah novel jika kuceritakan lebih lanjut. Jadi, sebaiknya ke bagian yang lebih detail saja.

***
Ketika kelas 2 semester akhir, dalam keadaan jauh dari orang tua, aku kembali mengutarakan niatku kepada kedua orang tua mengenai cita-citaku. Saat itu, orang tua hanya diam. Disana aku tahu, kedokteran tidak semudah yang kupikirkan selama ini.
Aku tahu, dengan melihat keadaanku di kelas, teman-teman mendukungku dan yakin aku dapat menjadi dokter nantinya apabila malasku kuhilangkan. Masalahku hanya ada di'malas'-ku saja.
Bahkan pepatah mengatakan, "Malas pangkal bodoh".
Wah, kalau kukenang kembali masa itu, kurasa benar sekali pepatah itu. Robek rasanya hatiku membacanya saat ini.
Malasku, malas yang kelewatan. Ditambah lagi labilku yang tak mau sembuh. Sebentar-sebentar rajin belajar, semester depan sudah malas lagi tak ingin maju. Aku sadar, aku seorang yang moody-an.

***
Akhirnya aku telah menginjak tingkat akhir SMA. Di tingkat akhir ini, aku mulai serius memikirkan cara untuk meraih cita-citaku. Jika kuingat saat itu sekarang, rasa sesal menghinggapi, "Kenapa tidak sejak dulu? Pemalasnya dikau, Riga."
Saat itu, aku mulai mencari info mengenai soal SBMPTN dan soal UN. Kucoba pelajari soal UN, masih bisa diterima oleh otakku. Namun untuk soal SBMPTN, Ma syaa Allah..., baru kali itu lihat soal susah minta ampun. Aku pernah konsultasi dengan teman cowok, ranking 2 di kelasku. IQ-nya jangan salah, loh. Tapi dia pemalas juga sepertiku. Hahaha.
Kutanya, "Kira-kira kalo aku belajar soal SBMPTN dari sekarang kekejar ga, nih?"
Dia diam sebentar, mikir, "Kayaknya susah, deh. Soal-soal ini musti tau konsepnya. Tapi kalo mau nyoba, kayaknya kekejar. Coba aja, aku rasa bisa deh, masih ada waktu 8 bulan lagi."
Nah dari situ, aku coba belajar. Terkadang dia meminjamkan hapenya agar aku bisa melihat akun Zenius miliknya dan belajar disana.
Bicara tentang Zenius, dulu ketika awal kelas 2 aku diberi akun Zen oleh seorang kakak kelas. Sempat kugunakan ketika sedang semangat belajar. Ketika semangatku anjlok, kuberikan akun itu pada temanku yang membutuhkan.
Aku tidak pernah menggunakannya lagi hingga waktu akun habis. Sedihnya kalau ingat saat itu, kusia-siakan saja akunnya padahal begitu berguna.

***
Saat mendekati SNMPTN, aku kembali bertanya pada Papa dan Mama lewat telepon, "Pa, boleh tidak Iga ambil kedokteran untuk SNMPTN ini?"
Mama hanya diam, Papa angkat bicara, "Biaya kedokteran tidak murah, Ga. Belum praktek, ko-ass, magang, beli alat, buku dan sebagainya. Papa tidak punya uang sebanyak itu."
Aku sempat diam, lalu bicara, "Tapi, Pa.., kan sekarang sudah sistem UKT, jadi seluruhnya tinggal bayar per-semester saja. Tidak ada Uang Pangkal. Jadi biayanya lebih murah."
Papa menyahut, "Walaupun lebih murah, tapi biaya kedokteran tetap mahal dan tidak bisa disamakan dengan uang kuliah lain. Papa tidak bisa jamin Iga bisa kuliah sampai selesai kalau ambil kedokteran."
Saya diam, air mata sudah menetes, "Tapi kemaren-kemaren Papa bilang Iga boleh ambil kedokteran."
Papa menyahut lagi, "Yaudah kalau mau ambil kedokteran, silahkan. Tapi Papa tidak jamin bisa kuliah sampai selesai. Kalau putus di tengah jalan, bagaimana? Coba pikirkan juga Papa susah mau nyari uangnya dimana. Kedokteran Universitas Bengkulu bahkan termurah 13,5 juta. Coba pikirkan kalau putus di tengah jalan? Pikirkan Papa dan Mama juga. Kan rugi sudah kuliah putus di tengah jalan. Coba Iga pikirkan sebijaksana mungkin. Sudah dulu, ya. Wassalamu'alaikum."
Dari speaker telepon tiba-tiba terdengar nyaring bunyi tut-tut-tut, namun dari bibir satu-satunya orang yang mendengar bunyi itu.., isak tangis yang keluar terdengar semakin menjadi.

Sedih, ya?